Tuesday, April 28, 2009

Saturday, December 6, 2008

UYUP-UYUP SIAN TANO MANDAILING GODANG PANYABUNGAN

Uyup-uyup Batang ni Eme
Entah masih seperti dulu saat panen di Tanah Mandailing Godang. Saat itu bila panen tiba, teman-temanku yang kebetulan orang tuanya berprofesi sebagai seorang petani, akan mengajakku pergi ke sawahnya. Ke sana untuk melihat ayah dan ibunya menyabit padi hasil sawahnya. Di sawah tempat ayahnya menuai panennya, kami akan bermain di sana, melihat semua sanak saudaranya ikut membantu memanen sawah.
Di sana kami akan membuat batang padi menjadi seperti sebuah suling. Memotongnya sepanjang kira-kira 10 Cm. Salah satu ujungnya disengaja memilih batang yang mempunyai buku sehingga lobangnya tertutup dan salah satunya merupakan lubang terbuka. Kemudian di dekat buku batang padi yang bertutup itu, akan kami buat lobang kecil sehingga berbentuk seperti suling. Batang padi yang tekah diolah menjadi seperi suling ini disebut Uyup-uyup. Sangat enak kedengaran suaranya. Apalagi pada ujungnya dibuat corong sebagai pengeras suaranya. Biasanya corongnya dibuat dari daun kelapa. Daun kelapa ini diambil satu helai, dililitkan pada ujung Uyup-uyup dan dibentuk menjadi sebuah terompet. Suaranya akan semakin keras kederngaran.Ini sangat membuat senang anak-anak. Dimana-mana di daerah Panyabungan selalu membuat yang demikian bila panen telah tiba. Tapi sekarang saya tidak pernah melihatnya lagi. Apakah saya yang tidak melihatnya lagi karena memang mainan ini sudah tidak disukai anak-anak ?Mandailing generasi sekarang lagi?
Ini salah satu cerita tentang saat-saat panen di Panyabungan. Tapi walau saya tak melihatnya lagi, saya masih ragu bila di perkampungan yang lebih kepedalaman, masih suka permainan ini. Permainan Uyup-uyup di Mandailing merupakan tradisi anak-anak yang patut dibanggakan.
Saya menuliskan ini karena saya sering membaca tulisan Uyup-Uyup pada seorang Blogger yang berasal dari Mandailing Godang, yang menamai Blognya dengan Bulung Gadung?Mandailing. Nampaknya dia seorang pecinta seni, adat dan budaya yang amat sangat. Yang katanya telah hidup di perantauan. Karena itu ia tergugah menjadi Blogger dari Mandailing. Sekian dari saya, Mr. Tanjung Panyabungan. Di penghujung tulisan ini kutuliskan sebuah pantun Mandailing:
Silalat di Angkola, Bulunggadung di Mandailing.
Ulang lalat ho amang sikola, harani bujing-bujing.
Keterangan:
Silalat di Angkola: Silalat artinga Daun Ubi.
Bulung gadung: Daun Ubi.
Angkola: Nama Daerah.
Mandailing; Nama Daerah.
Ulang Lalat ho amang sikola harani bujing: Jangan lalai di Sekolah sebab gadis.
Bila anda ingin lebih jauh mengetahui tentang adat di Tanah Mandailing, saya menuliskan sedikit cerita mengenai Adat Mandailing disini

Monday, July 7, 2008

Mr. Tanjung panyabungan - Guestbook


Mr. Tanjung panyabungan - Guestbook: "You can enter some information about yourself here,
or e.g. insert some partner-links, a picture...whatever you want ;-)"

Monday, June 30, 2008

LANGKITANG DI TOBING TINGGI



Berbeda dengan kebiasaan daerah-daerah lain, di Tobing Tinggi Panyabungan Timur, MADINA. Ada suatu alat pemberi tahu yang berguna untuk mengumumkan sesuatu pemberitahuan. Yang menyebarkan suatu pengumuman. Umpamanya bila kita ingin mengumumkan bahwa di desa itu ada kemalangan. Pengurus desa biasanya menggunakan suatu alat untuk menyebarkan berita ini ke seluruh masyarakat yang ada di desa itu. Pemberitahuan tentang adanya seseorang yang meninggal adalah dengan meniup sejenis kerang besar, yang biasa di sebut di tanah Mandailing dengan “Langkitang”. Bentuknya mirip dengan cangkang siput. Hanya saja ukurannya jauh lebih besar yang panjangnya kira-kira 25 cm dengan diameter 16 cm dan mempunyai suara yang keras bila ditiup. Tentunya mesti ditiup dengan orang yang mahir .
Dalam peniupan Langkitang mempunyai dua maksud tujuan. Bila peniupan dilakukan tujuh kali, itu pertanda yang meninggal orang dewasa, dan bila peniupan dilakukan lima kali, itu pertanda yang meninggal belum dewasa/anak-anak. Tapi sayang alat ini sudah tidak dipakai lagi, mungkin sebagai orang Mandailing, kita sebaiknya selalu mengingatnya. Kita sebaiknya mengingat bahwa kita punya cara tersendiri dalam memberitahukan sesuatu hal ikhwal dengan suatu alat yang namanya langkitang. Meski sekarang sudah tingggal cerita.
Dr. Musor Lubis Tobing Tinggi Dan Mr. Tanjung. MADINA
SUMATERA UTARA INDONESIA

MARALIOMA or ALIOMA

It is a hiding and seeking game in Mandailing. North Sumatra, Indonesia. This game has been famous since long time ago. This game consist of many men or women. Or at least 3 men .
In this game, a seeker in on a lost position. The hiders are on the win position. A seeker has to find all of else players. When he has found the all, he will becomes in win position. And the man who is found at the first time, will become a seeker in next game. So in this game, seeker and hider are changed as their ability to hide.
The system of game is like this. We should make a post in this game. Consist of a pole and a yard for place of all hiders when they have arrested by a seeker, and than a place for hiding
When this game has started. A seeker should close his eyes and face to a pole. He should wait until every man find a good place for hide. When he face to the pole, he has to say, “Alioma”.
And everybody will answer, “Not yet”. They will say it when they are looking for the suitable place. And will say that word, whenever a seeker says, “alioma”.
When they arrived to their hiding place, they should answer, “yes”.
Game for seek and hide is beginning after hider say yes. A seeker should stands on the post. He watch out all of players. His duty is to look for the hiders. To say a hider’s name, whenever he find and run to a pole, and says a hiders name as touch the pole. And the duty of hiders are to hide. To wait until a seeker is not in concentration. Run to that pole. Compete with a seeker. as for a hider arrives to the post earlier, he should say, “Alioma”.
But if he is later and a seeker arrives earlier, a hider will be lost. And that hider will be arrested. He is become a prisoner in this game. He is the first one in arrest. When all of hiders are found by seeker, someone the first time in arrest just now, will be come a seeker. But, if one of many hiders can arrive to the post, earlier than a seeker. Every prisoner will be release automatically. A seeker will watch out the first hider any more. But, if a seeker can catch all hiders in this game. This seeker will become a hider. He will be in win position.
It is very nice game. Many friends always do this game in moon night before. I often remember this game. Because this is a culture of Mandailing. Horas. Horas for you my culture. If you are not an Indonesian, and you want to come to Mandailing, Indonesia, maybe it is important for you to read
From me: Mr. Tanjung panyabungan

MARKATIMPUNG

Markatimpung adalah suatu seni memainkan musik di lubuk sungai atau air. Di saat sekarang, memang sudah payah menemukan seseorang yang pandai memainkannya. Tapi dulu, seni markatimpung ini amat disukai nenek moyang orang Mandailing. Kata markatimpung ini, juga kita temukan pada buku cerita Asal Mula Marga Lubis yang berasal dari Mandailing julu.
Terakhir banyak yang bercerita, orang terakhir yang melihat permainan music ini pada tahun 1990. Itupun hanya bisa dimainkan oleh orang-orang yang sudah tua. Tak diwarisi anak-anak muda lagi.
Cara memainkan music seni markatimpung ini, yaitu dengan memukul dan menampar air dengan berbagai cara. Sehingga menghasilkan suara yang bermacam-macam. Suara yang bermacam-macam ini akan diatur oleh pemainnya menjadi seindah mungkin. Bagi yang sudah ahli, suara ini bisa didengar hingga kujauhan sekitar 25 meter. Seni markatimpung, disebut juga markacimpung di lain desa. tapi kedua nama seni itu sama saja. Sungguh mengasikkan untuk didengar. Tapi sudah sulit untuk menemukan orang yang pandai memainkan markatimpung di zaman sekarang. Tapi entahlah di pelosok lain. Entahlah di desa yang paling terpencil, masih ada yang pandai memainkan seni markatimpung ini. Tapi saya sebagai penulis, juga sudah tidak pernah lagi melihatnya. Namun kalau saya menanya pada orang-orang yang sudah berusia sekitar 60 tahun, dan lama tinggal di pedesaaan, selalau mengenal seni ini.
Saya berharap kalau masih ada yang bisa memainkannya, agar tetap mengabadikan seni Mandailing ini. Agar budaya daerah kita tidak sirna karena perubahan waktu. Terima kasih. By: Mr. Tanjung panyabungan.